RSS
Showing posts with label Poem. Show all posts
Showing posts with label Poem. Show all posts

Kau Menari


 
       Photo | Gambar Gratis.com

Kau menari
Seperti angin menghanyutkan tubuh basah mu
menghitung bijian yang tumbuh di tanah
melengkapkan daun-daun pohon yang baru gugur

waktu terjaga
mengetuk kamu dalam lemari yang tak pernah kau tutup
uap badan mu mengkilat
peluh bagai segenggam harapan yang menggapai langit

matamu terbuka,bergerak dari satu titik ke titik lainnya
tak juga selesai
tanganmu koyak, menjauh
tenggelamkan aku dengan cecran darah yang tak kering

26-7-2002

  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS

Elegi-Elegi Hollywood


Desa Hollywood dirancang dengan konsep surga
Mereka sendiri. Di sini mereka telah menyimpulkan
Bahwa Tuhan yang perlu surga dan neraka, sebetulnya
Tak perlu merancang dua lembaga, cukup satu saja, yaitu surga
dan bagi mereka yang miskin dan gagal
Ia berfungsi sebagai neraka

Di lautnya terpancang tiang-tiang pengebor minyak
Di ngarai-ngarai belulang para penambang emas memutih
Putra-putra mereka mendirikan pabrik impian Hollywood
Keempat Kota
Padat oleh bau minyak
Yang menguap dari film


Nama kota dinisbahkan pada nama malaikat
dan Malaikat bisa ditemukan di setiap tempat
mereka berbau minyak dan memakai alat kontrasepsi emas
Dengan lingkaran biru di mata
Tiap pagi mereka menyuapi para penulis di kolam

Di bawah kehijauan pohon lada
para pemusik melacurkan diri dua-duaan
Dengan para penulis. Bach
menenteng quartet gesekl dalam tasnya
Dante menggoyangkan pantatnya yang keriput

malaikat-malaikat Los Angeles
Sudah letih senyam-senyum.
di malam hari .Di belakang pasar buah-buahan
Dengan putus asa membeli botol-botol kecil
Berisi aroma persetubuhan

Di atas keempat kota itu pesawat tempur
Bela Negara berkitaran tinggi sekali
Agar bau busuk syahwat dan kesengsaraan
tak bisa mencapai mereka

Note: puisi diatas menceritakan kisah terbentuknya Hollywood sebagai pusat perfilman dan kehidupan disana yang penuh dengan tindakan di luar norma.
Oleh : Bertolt Brecht

  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS

Bila Cinta ILLahi Berbicara

Sesaat aku sedang khusu' mengerjakan skripsi, sang adik Riza Elfian tiba-tiba mencolek diri ku dan berkata, kak dengarlah satu puisi. Setelah mendengarkannya, langsung terucap dari bibir, benar-benar kalimat yang indah terukir sejuta makna akan karunia TUHAN. Berikut puisi tersebut: 


Bismillah,

Akulah rahim segala anugrah Ilahi,
Yang membangun masa kini dan masa depan sebuah pernikahan,
Sumber kenikmatan, kedamaian dan kesentosaan,

Aku jauh lebih menawan ketimbang rayuan bunga,
Akulah yang mampu membuka tabir dari kalian dua insan,
Akulah tawa renyah si bibir pesona cintaNya,
Kala dua insan membuai cintaKu,
Mereka akan melupakan lingkungannya,
Dunia seketika menjelma mimpi indah yang sangat nyata,

Akulah sang petualang pencari cinta Ilahi dan RasulNya,
Aku rumah suci yang bersemayam di jantung dan hati dua insan,
Yang dibesarkan sosok seorang Ibu dengan tangan dan kasih sayangnya,

Akulah kebenaran dan kekuatan dari segala wujud apapun, duhai petualang pencari cinta Ilahi,
Kebenaran hakiki yang kalian daki,
Kebenaran murni yang terpancar dalam pemberian dan penerimaan,

Akulah sebuah kekuatan cinta Ilahi,
Yang mampu melewati segala hambatan-hambatan yang ada didepan dengan tuntunanNya,
Yang mampu meredam segala godaan yang ada dengan kesucian kesabaran Ilahi,
Yang mampu menjawab semua kehidupan,
Maka, jagalah aku agar kalian semua terayomi dalam suka dan duka.

  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS

Hymne Kaum Anak

Keanggunan jiwa, gairah kerja, akal pikiran
dan semangat janganlah kita abaikan
Biar mekar sebuah Jerman yang bermartabat
sebagai sebuah negara yang sehat.

Jangan sampai bangsa lain wajahnya memucat
Seperti berhadapan dangan penjahat
Melainkan menawarkan tangan dalam jabat
Seperti pada bangsa lain yang bersahabat

tak ingin kami lebih tinggi dari bangsa lain
tak juga kami lebih nista
dari Sungai Oder sampai Sungai Rhein
dari Alpen sampai lautan utara

Kerna kami tengah perbaiki ini negeri
Kami berhak membela dan mencintai lagi
Menjadikannya negeri kesayangan
Sebagaimana bengsa lain telah lakukan

By: Bertolt Brecht

  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS

Pembakaran Buku

Ketika rezim memberi komando
agar buku-buku dengan ilmu
dan pengetahuan yang berbahaya
di bakar di hadapan umum
dan di mana-mana
para lembu di paksa menghela
gerobak penuh buku
ke lapangan pembakaran,
syahdan dan hal ini ketahuan
seorang satrawan usiran
---salah satu sastrawan utama---
Kala ia mencermati daftra mereka yang dibakar
jiwanya terguncang, karena buku-bukunya terlupakan
kontan ia melesat ke meja tulis,
Dengan murka
dia menulis surat kepada penguasa
bakarlah saya! Tulisnya seketika
Bakarlah saya!
Jangan beginikan saya!
Jangan sisakan saya!
Bukankah saya senantiasa
Mewartakan kebenaran
di dalam buku-buku saya? Dan kini kalian
perlakukan seolah saya pendusta
Saya beri kalian komando:
Bakarlah saya!

By: Bertolt Brecht

  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS

Ganti Roda

Kududuk di tepi jalan
Sopir sedang mengganti roda
Ku tak suka tempat yang kutinggalkan
Ku tak suka tempat yang kan kutuju
lantas mengapa semua kusaksikan
Dengan begitu tak sabar?


By: Bertolt Brecht


Inilah hidup, adakalanya kita di atas, ada kalanya kita di bawah. Roda terus berputar, iya. Seperti bait puisi di atas, adakalanya dalam hidup ini kita harus mengganti roda putaran kehidupan. Kita harus kembali menata hidup yang kelam menjadi terang, yang gundah menjadi riang, hingga kebahagian kita dapat. Mau tidak mau kita harus mellewati setiap detik langkah dan nafas kehidupan dengan ketulusan dan berjuang menjadi yang terbaik setiap harinya. 

Lakukan yang terbaik hari ini untuk kebaikan di masa datang. Tetap semangat menjalani Karunia Hidup

  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS

Pertanyaan Seorang Buruh Yang Membaca

Siapa yang membangun Kota Thebes
Dengan tujuh Gerbangnya?
Cuma nama para Raja yang tercatat di buku-buku
Apakah mereka yang mengangkut batu-batu?
dan Babylon yang dimusnahkan berkali-kali
Siapakah yang membangunnya kembali?
Dan di gemerlap keemasan Kota Lima yang agung
di rumah manakah para buruh bernaung?
Di kala malam setelah tembok Cina berdiri
Ke manakah para kuli pergi?
Roma yang jaya dipadati gapura kemenangan
Siapakah yang membangunnya?
Atas siapakah para kaisar Romawi menang?
Byzantium yang dimadahkan dalam banyak cerita
Apakah disana semua warganya bermukim di Istana?
Bahkan di Atlantis yang legendaris
Kala tenggelam ditelan laut, para tuan meronta
memanggili para budaknya
Iskandar yang belia merebut India
Sendirikah ia?
Caesar mengalahkan orang Galia
Apa tidak sedikitnya seorang juru masak ia bawa?
Philip dari Spanyol menangis setelah armadanya porak-poranda
Apa yang menangis cuma dia semata
Friedrich II dari Prusia jaya dalam Perang Tujuh Tahun
Hanya jaya sendirikah dia?
Pada tiap satu halaman kemenangan
Siapakah yang memasak untuk pestanya
Tiap dasawarsa lahir seorang besar
Rekeningnya siapa yang bayar?

Begitu banyak pewartaan.
Begitu banyak pertanyaan.

By: Bertolt Brecht

  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS

Rubaiyat Matahari

Dengan Bismillah berdarah di rahim sunyi
kueja namamu di Rubaiyat matahari
kau dengar aku menangis sepanjang hari
karena dari November-Desember selalu lahir januari

engkaulah sepi di jemari hujan
kabar semilir dari degup gelombang
engkaulah api di jemari awan
membakar cintaku hingga degup bintang gemintang

atas sepi perahuku bercahaya 
membawa matahari ke jantung madura
atas bara api cintaku menyala
menantang matahari di lubuk semesta

aku peras laut jadi garam
mengasinkan hidupmu di ladang-ladang sunyi
aku bakar langit temaram
bersiasat dengan bayanganmu dalam kobaran api

batu karam perahu karam
mencari dasar sumur di lubuk lautan
darahku bergaram darahmu bergaram
menyeduh asin doa di cangkir-cangkir kehidupan

karena laut menyimpan teka-teki
di puncak suaramu kurenungi debur gelombang
karena layar hanya selembar sepi
di puncak doa mu kukibarkan bintang gemintang

pohon cemara ikan cemara
menggelombang biru di riak-riak senja
antara pohon dan ikan kita adalah cemara
mendekap cakrawala di dasar samudera

di rahang rahasia rinduku abadi
sampai runtuh seluruh sepi
rinduku adalah ketabahan matahri
menerima sepi di relung puisi

di relung malam lambaianku menua
juga pandanganmu di kaca jendela
alangkah dalam makna senja
menanggung berat perpisahan kita

dari pintu-ke pintu ketukanku kembali
tak lelah-lelah mencari Januari di reremang pagi
dari rindu ke rindu akupun mengaji
tak tamat-tamat membaca cinta di aliflammim puisi

By: Jamal D. Rahman
2002-2003

  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS

Tak Ada Yang Bisa Disembunyikan

Badan kita jadi patung, 
tak ada lagi yang perlu dijelaskan,
bahkan untuk sekedar memberi kabar,
sekian waktu menghilang,
jelajahi ombak dan pulau.

Hingga berlumut, tanpa kita sadari, sejenak kemarin sebetulnya telah tua, dimakan harapan.
Hingga kota menjerit, membenamkanmu dalam kasur yang lapuk,
cahaya pagi yang mengeruk luka sama jadi busuk.
Kita ingin berlutut, tapi manusia mesti tegak, manatap dari mata ke mata, tangan ke tangan, 
supaya tidak sia-sia.

Tak bisa sembunyi, lamat-lamat, ia akan datang,
mengetukmu dalam kamar yang sunyi, menghampirimu
untuk selalu menjaga air mata yang tumpah. 
Tak kelihatan,
Biar berkali doa-doa yang tersembul,

Sampai terdengar lagi, 
berita yang seperti kemarin.

By: Alexander Robert
 Jakarta, Agustus 2002

  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS